Suherman, Petani Lele yang Sukses

Ditulis oleh Firman Prasetia Nugraha, S.St.Pi on . Posted in Our Outcome

suhermanKM-Madapangga—Berawal dari kegiatan sampingan dengan membudidaya ikan lele di sekitar pekarangan rumahnya—Suherman terus berusaha dan membentuk kelompok tani air tawar yang diberi nama “Sumber Soke”. Hingga perjalanan usaha kecilnya itu terus berkembang dan berhasil. Kini nama kelompoknya menjadi Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan atau disingkat P2MKP “Sumber Soke”. P2MKP “Sumber Soke” beralamat di Ncandi, adalah nama desa yang baru satu tahun menjadi desa divinitif di kecamatan Madapangga kabupaten Bima provinsi NTB. Keberadaan P2MKP milik Suherman itu, satu-satunya yang ada di pulau Sumbawa dengan keberhasilan mengembangkan usaha budidaya dan pembenihan ikan lele maupun ikan air tawar. Selain itu, P2MKP “Sumber Soke” juga menjadi tempat kegiatan pelatihan bagi kelompok petani lele di kabupaten Bima.

“Sumber Soke” merupakan P2MPK dibawa binaan dari badan diklat Balai Pendidikan dan Pelatihan Perikanan (BPPP) Banyuwangi-Jawa Timur serta Dinas Perikanan dan Kelautan kabupaten Bima—yang hingga saat ini terus eksis mengembangkan usaha budidaya sekaligus tempat pembenihan ikan lele dan air tawar.

P2MKP “Sumber Soke” merupakan diantara 56 P2MKP yang telah mengikuti diklat dari 75 P2MKP yang sudah ditetapkan sejak tahun 2012 silam oleh badan diklat Balai Pendidikan dan Pelatihan Perikanan (BPPP) Banyuwangi-Jawa Timur. Dan, P2MKP “Sumber Soke” menjadi inspirator bagi sejumlah kelompok-kelompok budidaya lele—seperti yang ada di kecamatan Madapangga, Bolo dan Donggo.

Kelompok-kelompok yang menjadi binaannya itu dinilai banyak yang berhasil mengembangkan usaha budidaya serta pembenihan ikan lele dan air tawar. “Diantaranya adalah kelompok Harapan Makmur dan Lestari La Seribu di desa Woro, UPR di desa Mpuri, “Lele Rade” di desa Rade, “Lele Mekar” desa Rasabou dan kelompok Tani Terpadu di desa Bontokape kecamatan Bolo,” sebut Suherman Ketua P2MKP “Sumber Soke” desa Ncandi kecamatan Madapangga, saat berbincang-bincang dengan kampung-media.com disela-sela kegiatan pelatihan.

Sejarah terbentuknya P2MKP “Sumber Soke”, berawal dari keinginan Suherman untuk mengembangkan usaha serta membagi ilmu tentang budidaya ikan air tawar kepada para petani atau pembudidaya ikan air tawar yang masih primitive. Tujuannya adalah merubah sikap dan prilaku para pembudidaya ikan dari sistem tradisional menuju pembudidaya ikan yang modern.

Sehingga pada tanggal 16 September  2012 silam, kelompok “Sumber Soke” mencoba mendaftarkan diri sebagai pusat pelatihan mandiri kelautan dan perikanan kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan, di Jakarta. Dan, pada 3 April 2013, “Sumber Soke” ditetapkan menjadi P2MKP melalui badan pengembangan Sumber daya manusia Kelautan dan Perikanan, melalui Surat Keputusan Nomor:33/KEP-BPSDMKP/2013.

Instansi yang menjadi pembina adalah dari Balai Pendidikan dan Pelatihan Perikanan (BPPP) Banyuwangi-Jatim dan Dinas Perikanan dan Kelautan kabupaten Bima.

Adapun Visi P2MKP “Sumber Soke” adalah terwujudnya pusat pelatihan mandiri yang andal dalam menghasilkan sumber daya manusia perikanan budidaya yang profesional, berjiwa usaha dan berwawasan global.

Sedangan misi P2MKP “Sumber Soke” yaitu meningkatkan kwalitas sumber daya manusia di bidang perikanan budidaya—mengarahkan pemanfaatan sumber daya alam secara efektif dan evisien sehingga budaya guna dan berhasil guna, seperti lahan kosong, dam, sungai dan sawah untuk budidaya ikan air tawar—mengembangkan usaha pembenihan ikan air tawar untuk melayani permintaan benih dari para pembudidaya ikan yang ada di wilayah sekitar—dan mengembangkan usaha pembesaran ikan konsumsi untuk memenuhi permintaan pasar serta rumah-rumah makan.

Berangkat dari itu semua, sehingga P2MKP “Sumber Soke” menjadi tempat kegiatan pelatihan bagi kelompok-kelompok ikan lele dan air tawar yang ingin membangun dan mengembangkan usaha di bidang perikanan.

Pada tanggal 28 Juni 2013  silam, kelompok-kelompok budidaya dan pembenihan ikan lele dan air tawar ini yang dinilai berhasil itu, telah diberikan pelatihan. Awalnya, mereka itu dilatih oleh Suherman selaku pendiri “Sumber Soke” terkait cara pembesaran ikan lele dengan media kolam terpal angkatan I dan II—dengan jumlah peserta 20 orang, asal kecamatan Bolo dan Madapangga.

“Pelatihan pembesaran ikan lele dengan media kolam semen dan kolam tanah angkatan III dan IV, juga dilanjutkan pada 23 November 2013—dengan jumlah peserta 20 orang, yang diambil maksimal dua orang pada tujuh desa di kecamatan Madapangga,” kata Suherman.

Salah satu keberhasilan yang ia lakukan adalah menciptakan kelompok-kelompok usaha budidaya ikan lele di beberapa desa. Termasuk membangun beberapa fasilitas maupun sarana untuk mendukung kelancaran kegiatan-kegiatan pelatihan serupa.

Seperti membangun ruangan diklat ukuran 4x11 meter yang dapat menampung ± 30 orang peserta, sekretariat menyatu dengan perpustakaan ukuran 3x6 meter, penginapan dua kamar ukuran 3x2,5 meter, kamar mandi satu unit, lahan praktek 0,35 Ha, serta masing-masing 1 unit laptop, LCD proyektor merk microvision ms.330, printer merk brother DCP–J140w, generator listrik merk mikawa mk.4500, wireles merk tens ke–7.900, micriphon merk toastar TS.306 dan camera digital merk casio Qv.R 300.

Keuntungan Minimal Rp10 Juta Per Bulan

Hingga saat ini, P2MKP “Sumber Soke” yang didirikan Suherman, terus terus menjalankan usaha tersebut hingga meningkatkan hasil produksi ikan lele dalam tiga kali setahun serta melakukan pembenihan meski masih dianggap skala kecil. Hal ini diakui karena dipengaruhi oleh beberapa faktor yang menjadi penghalang dalam hasil produksi dan pembenihan lele.

Meski saat ini pembenihan hanya 20.000 ekor lele dalam sekali mijakan, namun persediaan benih tersebut terus dilakukan agar kebutuhhan tetap lancar menyusul tingginya permintaan pasar (benih).

Berbicara pendapatan, menurut Suherman, jika dikalkulasi hasil pembenihan dengan nilai jual rata-rata Rp500 per ekor, maka keuntungan yang ia peroleh minimal Rp10 juta per bulan. “Jadi dalam setahun kita bisa mendapat keuntungan Rp100 juta, selain sebagiannya telah digunakan untuk pembelian 60 pasang induk lele dari luar daerah serta biaya-biaya lainnya,” kata Suherman.

Sedangkan jumlah produksi panen untuk kebutuhan konsumsi, diperkirakan 600 kilogram per are, atau tiga kali panen dalam setahun dengan harga jual rata-rata Rp25 ribu per kilogram, sehingga total pendapatan per sekali panen hanya Rp15 juta.

“Pendapatan ini masih kita anggap relatif kurang. Karena beberapa faktor mempengaruhi minimnya jumlah pembenihan dan hasil produksi. Seperti persiapan induk yang harus didatangkan dari Sukabumi Jawa Barat, serta masih kurangnya kolam untuk pendederan,” kata Suherman.

Kendati demikian, selain upaya meningkatkan jumlah pembenihan serta hasil produksi melalui menjalin kerjasama agar kebutuhan induk lele yang didatangkan dari luar tetap lancar—P2MKP “Sumber Soke” yang dikendalikannya itu, juga terus melaksanakan kegiatan pelatihan-pelatihan bagi kelompok yang ingin menjadi petani budidaya ikan lele dan air tawar.(sri) - 05

sumber : http://sosok-inspiratif.kampung-media.com/2014/05/25/suherman-petani-lele-yang-sukses-3464

 

Lock full review www.8betting.co.uk 888 Bookmaker