ASINNYA GARAM DI KOTA KARANG

Ditulis oleh Gede Agus Surya Pratama, S.St.Pi, MP on . Posted in Artikel Kelautan dan Perikanan

garamKupang atau yang biasanya dikenal dengan Kota Karang merupakan ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur yang terletak di kawasan Indonesia bagian timur. Kupang memiliki segudang potensi laut yang sangat melimpah, diantaranya adalah rumput laut dan garam. Rumput laut adalah salah satu komoditas ekonomis penting di sektor perikanan. Garam adalah salah satu kebutuhan pelengkap dari kebutuhan pangan untuk dikonsumsi dan juga merupakan usaha perikanan non ikan. Kebutuhan garam di Indonesia dari tahun ke tahun semakin meningkat, akan tetapi kurangnya para pembudidaya untuk usaha garam membuat pasokan garam di Indonesia semakin menurun, apalagi saat ini kualitas garam kita kurang baik.

Di Kupang sendiri usaha produksi garam kurang diminati oleh masyarakat setempat, kebanyakan dari masyarakat Kupang mengandalkan mata pencarian dengan menjadi nelayan dan menangkap ikan di laut. Banyak masyarakat Kupang yang belum mengerti tentang cara menghasilkan garam dari air laut. Sebenarnya ada banyak cara untuk menghasilkan garam, dengan melihat keadaan dan letak geografis Indonesia yang terletak di daerah khatulistiwa dan dilalui 2 musim yaitu musim panas dan musim penghujan, sangat tepat jika proses pembuatan garam dilakukan dengan penguapan atau evavorasi. Hal ini layak dilakukan dikarenakan dengan memanfaatkan energi cahaya/panas matahari tidak dibutuhkan biaya yang terlalu banyak dan prosesnya pun tidak terlalu sulit. Berikut ini beberapa cara/tahapan yang dapat dipelajari untuk menghasilkan garam dari air laut.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi produksi garam adalah sbb :

a. Air Laut

  • Mutu air laut (terutama dari segi salinitas atau kadar garam (termasuk kontaminasi dengan air sungai), sangat mempengaruhi waktu yang diperlukan untuk (penguapan) dan garam yang dihasilkan. 

b. Keadaan Cuaca

  • Lama musim kemarau sangat berpengaruh terhadap lamanya intensitas cahaya matahari yang digunakan untuk pembuatan garam.
  • Curah hujan (intensitas) dan pola hujan distribusinya dalam setahun rata-rata merupakan indikator yang berkaitan erat dengan panjang kemarau yang kesemuanya mempengaruhi daya penguapan air laut.
  • Kecepatan angin, kelembaban udara dan suhu udara sangat mempengaruhi kecepatan penguapan air, dimana makin besar penguapan maka makin besar jumlah kristal garam yang mengendap.

c. Tanah

  • Sifat porositas tanah mempengaruhi kecepatan perembesan (kebocoran) air laut kedalam tanah di peminihan ataupun di meja garam.
  • Bila kecepatan perembesan ini lebih besar daripada kecepatan penguapannya dan terjadi hujan selama pembuatan garam, maka tidak akan dihasilkan garam.
  • Jenis tanah dapat mempengaruhi warna dan ketidakmurnian (impurity) garam yang dihasilkan.

d. Pengaruh air

  • Pengaturan aliran air dan tebal air dari peminihan satu ke berikutnya.
  • Kadar atau kepekatan air tua yang masuk ke meja kristalisasi dapat mempengaruhi mutu hasil garam.

Pada kristalisasi garam konsentrasi air garam sangat penting untuk diperhatikan secara seksama dan harus sesuai agar dapat menghasilkan garam yang berkualitas.

Sumber Artikel dan Gambar :

Penulis sendiri, Search engine Google dan berbagai referensi lainnya. Dipublikasikan sebagai bahan informasi publik dan bukan dikomersilkan

Lock full review www.8betting.co.uk 888 Bookmaker