MEMBUAT GARAM YODIUM BERKUALITAS

Ditulis oleh Firman Prasetia Nugraha, S.St.Pi on . Posted in Artikel Kelautan dan Perikanan

 

Oleh : Yanuar Rustrianto B, S.St.Pi, M.Si - Widyaiswara Muda BPPP Banyuwangi

 

Masalah kekurangan zat gizi mikro (mineral) merupakan fenomena yang sangat jelas menunjukkan rendahnya asupan zat gizi dari menu sehari-hari. Untuk itu, intervensi gizi yang mampu menjamin konsumsi makanan masyarakat mengandung cukup zat gizi mikro perlu dilakukan. Atas dasar itulah maka perlu dilakukan terobosan teknologi yang murah, memberikan dampak yang nyata, diterima oleh masyarakat dan berkelanjutan. Diantara berbagai solusi perbaikan gizi, salah satunya adalah dengan penambahan mineral yodium (KIO3)/iodisasi pada garam yang berkualitas. Garam beryodium merupakan salah satu kebutuhan pokok sehari hari manusia untuk tumbuh dan berkembang,contoh konkret yang terjadi apabila kekurangan pada ibu yang sedang mengandung dapat berakibat abortus, lahir mati, kelainan bawaan pada bayi, meningkatnya angka kematian perinatal, melahirkan bayi kretin, dan sebagainya. Pada anak-anak menyebabkan pembesaran kelenjar gondok, gangguan fungsi mental dan perkembangan fisik, sedangkan pada orang dewasa berakibat pembesaran kelenjar gondok, hipotiroid dan gangguan mental. Pada dasarnya garam telah terdapat kandungan yodium, namun tingkat mineralyang dihasilkan tidak cukup bahkan tidak ada untuk memenuhi kebutuhan zat mikro didalam tubuh.Oleh karena itu perlu dilakukan fortifikasi/penambahan yodium pada garam konsumsi, disamping juga menjadi peluang usaha menarik untuk meningkatkan pendapatan dengan cara mengolah garam krosok/kotor menjadi garam halus berkualitas.

Proses pembuatan garam dilahan garam mempunyai hasil cenderung besar dan kasar sehingga diperlukan metode untuk memproduksi garam halus salah satunya adalah  perebusan garam yang telah dikembangkan BPPP Banyuwangi sebagai salah satu bahan baku garam halus beryodium. Metode pembuatan garam diawali dengan membuat larutan garam dengan perbandingan garam krosok dan air bersih 2,5 : 1 (±25 °Be) atau 60 kg garam krosok dilarutkan dalam blong besar 150 liter, hal ini dilakukan untuk melebur kembali garam krosok sehingga kotoran/impurities berat dapat mengendap di bawah sedangkan yang ringan dapat mengambang di permukaan. Pengendapan larutan garam (air tua) dilakukan selama 1 hari sebelum perebusan dengan harapan air tua yang dihasilkan mempunyai wana bening (bersih). Setelah pengendapan dilakukan proses penuangan pada bak perebusan yang telah difilter mekanis 4 micronsampai penuh, kemudian nyalakan api pada tungku menggunakan kayu bakar atau lebih baiknya sekam agar panas merata dan jaga panas larutan garam pada suhu ±100 °C sambil dilakukan pengadukan secara teratur.

 

1

Gambar 1. Pembuatan Garam Dengan Sistem Rebus

 

Pengadukan dilakukan untuk mempercepat rekristalisasi/pengkristalan kembali Nacl sehingga terlihat butiran-butiran kecil kristal garam. Tambahkan larutan garam setiap terjadi penyusutan 30% pada bak perebusan dan lakukan pemungutan setiap terjadi endapan kristal garam± 25%. Tiriskan kristal garam hasil pungutandalam wadah peniris sampai suhu  ±27 °C dan ditaruh dalam bak peniris selama 1 hari atau lebih dengan tujuan untuk mengurangi kadar air. Untuk memaksimalkan dry basis/kekeringan garam dilakukan proses spinner selama 3 menit pada 1300 rpm dan proses pengeringan dengan mesin rotary drying sampai kadar air 2% - 3%. Hasil garam halus dicapai setelah proses rekristalisasi adalah 45 kg sehingga berkurang 15 kg atau 25% dikarenakan larutan pencampuran garam krosok menggunakan air biasa yang tidak terdapat kandungan garamnya. 

 

2

Gambar 2. Pengurangan Kadar Air Garam

 

Selanjutnya dilakukan proses iodisasi kering 40-50 ppm dengan perbandingan garam dan KiO3 1 : 25.000, dan segera lakukan proses pengepakan dalam wadah plastik yang rapat. Hal ini dikarenakan berkurangnya kandungan yodium pada garam dapat disebabkan olehbeberapa faktor seperti tempat penyimpanan, cara penyimpanan dan lokasipenyimpanan garam. Garam beryodium akan lebih baik bila disimpan didalam wadah yang terbuat dari kaca/keramik/plastik, disimpan secaratertutup dengan lokasi penyimpanannya jauh dari sumber panas/api. Hasil pengemasan 45 kg dihasilkan 180 bungkus @ 250 gr dan di packing kembali dalam bentuk lusin/ball sesuai pesanan yaitu 1 ball sejumlah 20 bungkus. Garam halus yodium berkualitas dihasilkan 9 ball siap untuk dipasarkan.

 

3

Gambar 3. Pengemasan Garam Beryodium

 

 

ANALISA USAHA PEMBUATAN GARAM HALUS BERYODIUM

 

Bahan dan Alat (Untuk membuat garam halus beryodium 45 kg)

Bahan :

  1. Garam Krosok K3 60kg
  2. Air bersih 250 liter
  3. KiO3 2 gr
  4. Sekam/Kayu bakar
  5. Tungku dan bak rebusan dengan ukuran 122 x 40 x 244 cm, bahan SUS 304 10 mm
  6. Spinner 1300 rpm
  7. Rotary dryer
  8. Media Filter 40 micron
  9. Alat pungut garam
  10. Bak pelarutan 1 x 150 liter
  11. Media peniris (plat screen/sesek)
  12. Sekam padi/Kayu bakarRp.25.000
  13. Listrik 10 kwh Rp.16.000
  14. Tenaga 2 orgRp.20.000
  15. KiO3
  16. Plastik Inner (180 pcs) xRp.100000

 

Alat :

Analisa ekonomi pembuatan garam konsumsi beryodium dengan sistem rebus per 45kg adalah biaya pembuatan (variable cost), berupa :

Sub Total garam 45 kg :                                   Rp.89.000

Total garam per kg       :                                   Rp. 2.000

Biaya Pembuatan Garam = harga garam krosok + total garam per kg

                                         = Rp.1.000 + Rp. 2.000

     = Rp. 3.000

Harga jual garam konsumsi beryodium / ball = Rp 25.000/ 5 kg

= Rp.5.000

Mengolah garam krosok (KW3) menjadi garam halus beryodium cukup menjanjikan dalam hal meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan bagi para petambak/pengolah garam. Sehingga apabila dianalisa, keuntungan pembuatan garam beryodium tiap 1 kilo adalah : Rp.5.000 – Rp.3.000 = Rp 2.000. Apabila setiap hari home industri dengan 2 karyawan mampu menghasilkan 500 kg garam, maka kebutuhan garam per bulan untuk home industri adalah 30 hari x 500 kg = 15.000 kg atau 15 ton per bulan. Dengan kemampuan home industri dalam memproduksi 15 ton maka penghasilan bersih perbulan adalah 15.000 kg x Rp. 2.000 = Rp. 30.000.000 dengan asumsi biaya alat dan bahan tahun 2018 yaitu Rp.280.000.000, dicapai Break Even Poin 291 hari kerja/9½ bulan belum terhitung dari hasil tambahan berupa abu sebagai campuran pupuk organik.  

 

 

Lock full review www.8betting.co.uk 888 Bookmaker