PANEN GARAM DARI MUSIM KE MUSIM DI BPPP BANYUWANGI

Ditulis oleh Administrator on . Posted in Artikel Kelautan dan Perikanan

Oleh :

Yanuar Rustrianto Buwono, S.St.Pi, M.Si (Widyaiswara Muda BPPP Banyuwangi)

 

Penurunan produksi garam yang sangat tajam terjadi belum lama ini, yaitu pada tahun 2016 akibat intensitas hujan tinggi yang di semua wilayah Indonesia. Menurut data Kementerian Kelautan dan Perikanan, produksi garam tahun 2016 hanya mencapai 188 ribu Ton sedangkan tahun 2015 bisa mencapai 2,9 juta Ton. Dipicu dari cuaca juga adanya sistem pembuatan garam di Indonesia yang saat ini masih konvensional dalam produksi garam yaitu mengalirkan air laut ke dalam kolam penampungan dan diuapkan beberapa hari hingga menyisakan garam di meja kristal atau disebut “kristalisasi total”. BPPP Banyuwangi sebagai salah satu Unit pengembangan SDM Perikanan dan Kelautan di bawah Kementerian Kelautan dan Perikanan, pada tahun 2010 sampai sekarang dengan adanya program “Pugar” (Pengembangan Usaha Garam) di wilayah kerjanya mempunyai sasaran untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat pesisir khususnya petambak garam. Walaupun tidak bisa dihindari persaingan dengan garam impor lebih baik dalam hal kualitas NaClnya mencapai 99% sedangkan garam rakyat hanya dibawah 94%, BPPP Banyuwangi siap meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap pelaku utama petambak garam dengan keunggulan pelatihan/penyuluhan teknis bidang garam seperti Pelatihan Teknik Ulir Filter (TUF) Geomembran dan Penyuluhan Garam sistem Katup/Buka Tutup (On/Off) dalam hal peningkatan kualitas maupun kuantitas.

Keunggulan produksi garam dengan TUF dan Geomembran oleh BPPP Banyuwangi telah banyak diterapkan petambak garam di wilayah kerjanya, hal ini terlihat dari hasil produksinya bisa mencapai 8 - 9 Ton/Ha/10 - 14 hari dibandingkan sistem tradisional hanya mencapai 5 - 6 Ton/Ha/25 - 30 hari. Prinsip TUF ini adalah menguapkan unsur - unsur kimia air laut sehingga menyisakan butiran garam (NaCl), semakin banyak perlakuan ulir dalam pengelolaan air laut itu maka semakin cepat menghasilkan garam. Keunggulan lainnya adalah usaha pengembangan produksi garam sepanjang waktu. Cuaca tak menentu seperti curah hujan yang terjadi akhir tahun - tahun ini, sangat mengkuatirkan petambak garam dalam memproduksi garam.Pengaruh cuaca tak menentu akibat perubahan iklim yang disebut gejala la-nina (musim hujan berkepanjangan) akan mengakibatkan intensitas air hujan tinggi dan menurunkan tingkat produktivitas pembuatan garam. Namun, kini sudah banyak bermunculan teknologi untuk mengatasi air hujan dan tetap melakukan pembuatan garam salah satunya adalah dengan memodifikasi penutup meja garam sebagai tempat terbentuknya kristal garam.

1

Sistem KATUP “Buka Tutup” atau On/Off pada awalnya merupakan hasil kajian BPPP Banyuwangi bekerjasama dengan Petambak garam Kabupaten Probolinggo melalui program penyuluhan unit percontohan garam Tanggal 27 - 29 Oktober 2017.  Rancangan konstruksi Katup yang sederhana dan berbeda dari pada yang lain selintas mirip rumah kaca namun apabila dilihat lebih detail terbuat dari bahan yang ramah lingkungan yaitu baja ringan (Galvalum) untuk bak penampung serta atap berbahan berbahan plastik geomembran/HDPE (High Density Poly Etilen) berwarna bening sehingga pada saat musim hujan dan musim panas dapat dibuka dan ditutup untuk mempercepat proses penguapan dari air laut muda (Be 3) menjadi air laut tua (Be 20).

Bentuk desain yang aerodinamis berbentuk kubah seperti terowongan, membuat kebersihan (hygiene) garam lebih terjamin kualitasnya akibat debu atau kotoran yang terbawa oleh angin di sekitar lingkungan tambak. Proses produksi sistem Katup (On/Off) ini lebih banyak membutuhkan tampungan air laut tua “Bunker” sebagai penampung air laut yang sudah tua/pekat kadar air garamnya yang bertujuan untuk ketersediaan bahan baku pada saat musim hujan. Hal tersebut terlihat pada Penyuluhan Unit Percontohan Garam di Kabupaten Probolinggo dapat menghasilkan 30 Ton/Ha/5 hari, sedangkan BPPP Banyuwangi mempunyai 1 unit Katup seluas 9 m2 dapat memproduksi garam sekitar 117,30 kg/20 hari pada saat cuaca memasuki musim hujan sehingga apabila dihitung hektar dapat mencapai 12,5 Ton/Ha, hasil produksi garam ini bisa lebih meningkat apabila cuaca sudah memasuki musim kemarau.

2

Terobosan ini sangat penting diketahui oleh petambak garam di wilayah kerja BPPP Banyuwangi karena keunggulannya dalam produksi garam tidak lagi harus bergantung pada musim kemarau sehingga garam bisa dipanen sepanjang waktu. Walaupun harus mengeluarkan biaya tidak sedikit dalam pembuatannya, namun dengan harga garam yang cenderung tinggi pada saat musim hujan mencapai ± Rp. 3.200,00 dibandingkan pada saat musim panas ± Rp. 2.000,00 dengan permintaan garam yang meningkat maka biaya yang dikeluarkan dalam pembuatan dan pengelolaannya dapat kembali bahkan mengalami keuntungan lebih. BPPP Banyuwangi sebagai ujung tombak dalam pengembangan SDM bidang Kelautan dan Perikanan melalui pelatihan/penyuluhan, salah satunya bidang teknis garam bertujuan untuk menghasilkan petambak garam yang kompeten, handal, tangguh, dan siap dalam memproduksi garam menuju Swasembada Garam Nasional. 

 

Lock full review www.8betting.co.uk 888 Bookmaker