KELAUTAN

KENALI DAN MANFAATKAN BITTERN (SISA AIR TUA) PADA PROSES PRODUKSI GARAM

 

Oleh: Yanuar Rustrianto B, S.St.Pi, M.Si - Widyaiswara Muda

 

Secara umum air laut merupakan bahan baku utama dalam produksi garam (NaCl). Namun demikian laut yang begitu luas belum dimanfaatkan secara optimal baik sebagai bahan baku garam atau mineral lainnya. Padahal dalam air laut terdapat banyak mineral seperti MgCl2, MgSO4, CaCO3 dan lain-lain. Produksi garam rakyat pada umumnya mempunyai kadar NaCl sekitar 80-90%, dan sisanya merupakan kandungan bahan pengotor seperti Kotoran (tanah liat), Magnesium (Mg), Kalsium (Ca), Kalium (K), dan Sulfat (SO4) sertas impuritis lainnya. Berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI), kualitas garam untuk konsumsi dan industri mempunyai kadar NaCl diatas 95%, sehingga produksi garam rakyat masih membutuhkan proses lanjutan. Proses yang sering dilakukan untuk meningkatkan kadar NaCl adalah proses pencucian dengan larutan garam jenuh (larutan Brine) dan proses "Rekristalisasi". Kondisi yang sangat memungkinkan Indonesia untuk menjadi negara penghasil garam terbesar dan mineral-mineral turunan lainnya dan menjadi negara pengekspor garam bisa saja terjadi karena wilayah Indonesia terbentang sepanjang 3.977 mil di antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik dengan luas daratan Indonesia adalah 1.922.570 km² dan luas perairan 3.257.483 km². Sedangkan saat ini produksi garam Indonesia sekitar 700.000 ton baik yang dihasilkan dengan cara tradisional ataupun perusahaan besar (Kementerian Perindustrian Indonesia, 2012).

Prinsip pembuatan garam secara sederhana dimulai dari air laut menjadi garam (NaCl) dari bak-bak peminihan dengan salinitas mencapai 200 ppt (20 °Be) masuk ke dalam kolam kristalisasi atau meja garam. Pada kolam ini diharapkan NaCl yang terkandung dalam air laut sebesar >98 %. Pada kolam peminihan ini diharapkan salinitas naik menjadi 250 ppt (25 ° Be), baru air dikirim masuk ke meja kristal. Kolam kristalisasi NaCl yang terendapkan > 72% dan air yang masih ada dikenal sebagai air bittern dapat dimanfaatkan untuk kesehatan. Air bittern banyak mengandung senyawa Magnesium yang banyak manfaatnya, selama ini air bittern selalu dibuang para petambak garam.

gambar 1. proses produksi garam

Gambar 1. Proses Pembuatan Garam

 

Air bittern terjadi karena larutan sisa proses pembuatan garam dari air laut dengan menggunakan energi matahari, biasanya tidak dimanfaatkan dan dibuang kembali ke laut dalam jumlah yang relatif banyak. Padahal didalam bittern (28,5-30 °Be) ini masih terkandung Magnesium sekitar 4–5% w/v. Data kandungan mineral/senyawa makro dalam air tua pada 29 s/d 30,5 °Be, dapat dilihat pada Tabel 1 dan Tabel 2. (Judjono, 2001). Dalam proses pembuatan garam, komponen yang diambil dari air laut adalah natrium klorida. Sedangkan pada kandungan magnesium yang terdapat dalam bittern lebih besar dibandingkan dengan kandungan magnesium yang terdapat di dalam air laut. Larutan bittern ini mempunyai sifat; Appearance keruh, Fasa Cair, Berat jenis Larutan 1,0288 g/ cc, Densitas 25,6 g/cm3, Kandungan NaCl,  MgCl2, MgSO4, KCl, Carnalite, Kieserite.TABEL

gambar 2. kolam bittern

Gambar 2. Air Bittern

 

Limbah tambak garam/ sisa air tua selalu dibuang atau tidak dimanfaatkan petambak garam, karena jika tidak dibuang kristal garam tidak akan berwarna putih tetapi berwarna kuning muda dan rasanya kurang asin. Hal ini dikarenakan senyawa Mg (Magnesium) merupakan impuritas yang tidak diinginkan karena sifatnya yang mudah menyerap air, sehingga apabila bittern disirkulasi kembali ke areal penguapan maka akan diperoleh garam dengan kandungan NaCl rendah, Kristal yang tumbuh pun akan menjadi kecil, tipis, dan banyak dikarenakan atom-atom magnesium sulfat dalam larutan akan saling bertemu dan bergabung bersama dalam struktur kristal. Hal terpenting yang perlu diketahui bahwa kadar magnesium harus ditetapkan sesuai dengan tujuan pembuatannya yaitu untuk pupuk tanaman, perawatan kulit, bahan alat kecantikan, suplemen makanan ternak, obat, campuran pewarnaan tekstil, coagulating agent dlm industri karet tekstil, koagulan pada pengolahan limbah cair industri, suplemen minuman isotonic/minuman berion (minuman mengandung ion-ion), kolam terapi untuk penyembuhan penyakit dalam, dan campuran dalam pembuatan tahu, telur asin.

gambar 3. garam magnesium

Gambar 3. Garam Magnesium

 

Saat ini salah satu perusahaan garam pemerintah telah mencoba mengolah bittern olahan yang diekspor ke Jepang. Proses yang digunakan adalah teknologi penguapan pada suhu kamar, salah satu bagian proses ini adalah pendinginan menggunakan chiller yang membutuhkan biaya dan ketelitian yang tinggi. Dengan didirikannya perusahaan tersebut dan dikenalnya bittern diharapkan memiliki nilai tambah yang memberi manfaat yang selama ini dibuang sehingga menjadi sumber pendapatan sampingan dari petambak garam selain hasil garam tersebut.