BUDIDAYA PERIKANAN

 

lele bioflok agustus 2019 a[News-Banyuwangi] Pelatihan teknologi bioflok pada usaha budidaya lele di Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BPPP) Banyuwangi telah dilaksanakan selama 5 (lima) hari pada 26 – 30 Agustus 2019. Dalam Sambutannya Kepala BPPP Banyuwangi, Achmad Subijakto, menyampaikan bahwa kegiatan pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan ketrampilan teknis pelaku utama dalam melakukan kegiatan budidaya perikanan dengan wadah kolam terpal sistem bioflok, memberikan motivasi para pelaku utama untuk meningkatkan kapasitas usahanya dan membuka akses pasar bagi para pelaku utama.

Pada dasarnya pelatihan ini diberikan adalah untuk untuk menjawab tantangan dalam meningkatkan produksi ikan lele pada kolam sempit dengan lahan terbatas, menekan pengeluaran biaya pakan lele dan menghemat waktu pemeliharaan karena Teknologi bioflok ini merupakan teknologi yang memanfaatkan hasil metabolisme ikan lele yang mengandung nitrogen untuk diubah menjadi protein disamping pakan harian yang diberikan.

Metode yang digunakan pada pelatihan ini adalah ceramah, diskusi, demonstrasi dan praktek lapang. Pelatihan ini dihadiri oleh 25 orang pembudidaya ikan yang berasaal dari Kabupaten Bangkalan, Kabupaten Gresik, Kabupaten Pacitan, Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Tuban dan Kabupaten Banjarmasin. Para peserta pelatihan sangat antusias dalam mengikuti pelatihan dan berharap dapat mengaplikasikan dan mengembangkan pengetahuan dan teknologi yang diperoleh pada kegiatan budidaya ikan yang mereka lakukan.

lele bioflok agustus 2019 b

Dari hasil post test, lebih dari 90% pembudidaya ikan berhasil menjawab pertanyaan tentang teknologi bioflock, penanganan penyakit dan teknik penanganan ikan dalam pemanenan. Data yang ditunjukkan pada akhir pelatihan, semua peserta memahami dengan baik topik yang diberikan.[iMarlin/red]

vannameiBudidaya udang vannamie di Kabupaten Kebumen bukan lagi hal yang baru, terutama bagi masyarakat daerah Kecamatan Puring, dimana terdapat pantai bernama pantai bopong, jika sobat berkunjung kesana sobat akan melihat ratusan tambak udang vannamei. Pemilik tambak selain dari daerah setempat juga ada yang dari daerah lain. Jumlah petani udang vannamei semakin tahun semakin bertambah dikarenakan adanya MEA singkatan dari Masyarakat Ekonomi Asean yaitu konsep pasar bebas yang diberlakukan di Asia Tenggara yang sudah diberlakukan sejak tahun 2015, dan merupakan salah satu perwujudan AFTA (Asean Free Trade Area), tentunya persaingan perdagangan semakin ketat, karena orang dari negara tetangga akan bebas masuk ke Indonesia untuk menjual : barang, jasa serta keahliannya. Oleh sebab itu, budidaya udang vannamei sangat cocok untuk komoditas bisnis pada pasar MEA.